NASKAH TEATER SENI BUDAYA
KELAS XI IPS I
KELUARGA
BESAR GALAXIAL
(Gabungan
Laskar XI Sosial Satu)
PEMERINTAHAN
KABUPATEN CIAMIS
DINAS
PENDIDIKAN
SMA
NEGERI 1 SUKADANA
Jln. Raya Gardu – Ciilat No. 47 Tlp. (0265)
2752013 Sukadana, Ciamis 46272
PEMERINTAHAN KABUPATEN CIAMIS
DINAS PENDIDIKAN
SMA
NEGERI 1 SUKADANA
Jln.Raya Gardu Ciilat
Tlp.(0265)2752013 Sukadana Ciamis 46272
LEMBAR
PENGESAHAN
Makalah ini dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Pelajaran Seni Budaya yang disusun
berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2012. Setelah
kami susun, makalah ini selanjutnya akan disyahkan oleh guru Mata Pelajaran Seni
Budaya kelas XI.
Sukadana, Desember 2011
Guru
Mata Pelajaran Seni Budaya,
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk
dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Seni Budaya “Seni
Teater” ini.
Pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyusun Makalah ini.
Serta
mohon maaf, jika dalam penyusunan Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan,
karena kami masih dalam tahap belajar. Untuk itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun supaya bisa lebih baik lagi dimasa
yang akan datang.
Sukadana, Desember 2011
Penulis,
SHINTA OBONG
A. Tokoh:
Ø
Yara Nafisa Salma Shinta
Ø
Riki Ginanjar Rama
Ø
Deris Hermawan Rahwana
Ø
Agus Nurjanah Istri Rahwana
Ø
Erni Kurniawat Wiranda
(Putri Rahwana)
Ø
Noneng Siti Azizah Dayang Shinta
Ø
Evelyn Apriliani Dayang Shinta
Ø
Lindy Siti H. N Dayang Rama
Ø
Nurmayanti Dayang Rama
Ø
Diani Nurhayati Dayang Rahwana
Ø
Rita Mey Rita Dayang Rahwana
Ø
Wawan Setiawan Prajurit Rahwana
Ø
Fery Firmansyah Prajurit Rahwana (Tuli)
Ø
Nanang Maryanto Prajurit Rahwana (Gagu)
Ø
Tian Kustiana Prajurit Rahwana
(Buta)
Ø
Yana Prajurit
Rama
Ø
Diki Kurniawan Prajurit Rama
Ø
Asep Rusdiana Prajurit Rama
Ø
Sri Mulyati Nini Pelet
B. Struktur Keanggotaan :
Ø
Sutradara : Yara Nafisa
Salma
Ø
Skenario : Agus N. +
Noneng S. A. + Yara N. S
Ø
Penata
Musik : Agus +
Gugun + Deris + Iin + Fera + Entus
Ø
Penari : Lela +
Rustika + Aa Aulia + Ahmad
Ø
S.
Dekorasi & Tata Panggung : Iwan +
Ahmad + Rika + Tika + Tita + Rita
Ø
S.
Tata Rias & Busana : Yara
+ Agus + Lindy + Iwan + Evelyn + Diani
C. Keterangan Penari Pendukung
Shinta & Rama
Ø
Sekmen I Lela
Ø
Sekmen II Lela
D. Keterangan Musik Pengiring
(Penari & Pergantian Babak/Sekmen)
Ø
Babak
I :
1.
Sekmen
I :
Catrik + Bubuka
2.
Sekmen
II : Jiro
3.
Sekmen
III : Lagu India (bole cudiyan/muhabatten)
4.
Sekmen
IV :
Ø
Babak
II
1.
Sekmen
VI : Musik Detektif
2.
Sekmen
VII :
3.
Sekmen
VII : Musik kaget
4.
Sekmen
VIII :
5.
Sekmen
IX :
6.
Sekmen
X : Musik Romantis (Gitar)
Ø
Babak
III
1.
Sekmen
XI : Musik mapag panganten +
petikan gitar
SINTA OBONG
Alkisah disebuat negeri Ramayana
hiduplah sepasang kekasih, yaitu Putri Sinta yang merupakan seorang putri yang
berparas cantik dan Pangeran Rama yang merupakan seorang pangeran yang tampan
dan gagah.
Suatu hari, dikisahkan ketika
Rama dan Sinta sedang asik bersenda gurau sambil bermesraan disebuah taman,
tiba – tiba datanglah Rahwana yang merupakan seorang Raksasa jahat bersama para
prajuritnya. Melihat Sinta yang begitu cantik, seketika Rahwana pun langsung
jatuh hati kepada Sinta. Namun kemudian, salah satu dari prajuritnya memberi
tahu bahwa Sinta adalah kekasih Rama, tetapi Rahwana tidak peduli akan hal itu.
Setelah hampir cukup lama memperhatikan Sinta, Rahwana bersama para prajuritnya
pun pergi. Kemudian datang lah Dayang Aziza dan Dayang Mila yang merupakann
dayang setia sekaligus penjaga putri Sinta. Mereka datang untuk menjemput sang
Putri pulang ke Istana.
Diceritakan di Kerajaan Rahwana.
Rahwana yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Putri Sinta, tidak bisa berhenti
memikirkan sang Putri. Keempat prajurit setianya yaitu Prajurit Wawan, Prajurit
Fery (Tuli), Prajurit Nanang (Gagu) dan Prajurit Tian (Buta) pun mendukung
tentang keinginan Rahwana untuk mendekati Sinta. Akhirnya Rahwana pun
memerintahkan para prajuritnya untu pergi x[[memata – matai Sinta. Namun disisi
lain Istri dan Anak Rahwana sangat bersedih.
Pada suatu hari, seperti biasa
Rama dan Sinta sedang kembali dan bertemu dan duduk berdua di taman. Pada saat
itu Rama kemudian melamar Sinta dan tentu saja Sinta menerima lamaran Rama. Dan
tanpa mereka ketahui, para prajurit Rahwana sedang memata – matai mereka.
Mendengar semua pembicaraan Rama dan Sinta, para prajurit Rahwana segera
kembali ke Istana dan melaporkan semuanya pada Rahwana. Mendengar bahwa Rama
telah melamar Sinta, Rahwana sangat murka. Kemudian dia memanggil Nini Pelet
untuk meminta saran. Nini Pelet kemudian menyarankan agar Rahwana untk menculik
Sinta. Dan tanpa pikir panjang, Rahwana langsung memerintahkan prajuritnya
untuk menculik Sinta.
Pada suatu hari, Sinta yang
kembali bertemu dengan Rama di taman sambil ditemani para dayang dan
prajuritnya. Namun tidak lama kemudian, Rama pergi meninggalkan Sinta dan para
dayang. Pada saat dayang – dayang Sinta lengah, para prajurit Rahwana segera
menculik dan membawa Sinta kehadapan Rahwana. Saat dayang – dayang Sinta
menyadari bahwa Sinta telah diculik oleh para prajurit Rahwana, mereka langsung
bergegas pergi dengan panik untuk melaporkan kejadian ini kepada Rama.
Sesampainya di Istana Rama, para dayang – dayang Sinta segera menceritakan
semua yang terjadi pada Putri Sinta. Rama sangat terkeju, dia merasa sedih dan
khawatir pada keadaan Sinta dan Rama begitu murka aras apa yang telah dilakukan
Rahwana. Tanpa mengulur waktu, Rama dan prajuritnya segera menyusun siasat
untukmenyelamatkan Sinta. Rama kemudian mengirimkan pesan kepada Rahwana yang
berisi sebuah tantangan untuk bertarung. Dan barang siapa yang menang dalam
pertarungan ini, maka dialah yang berhak
untuk menikahi Sinta. Rahwana pun menerima tantangan Rama.
Keesokan harinya, Rama dan
Rahwana yang masing-masing ditemani para prajuritnya kemudian bertemu di medan
pertarungan. Keduanya saling berkelahi dan beradu kekuatan. Ternyata, Ramalah
yang akhirnya berhasil mengalahkan Rahwana. Rahwana pun menepati janjinya dan
megembalkan Shinta kepada Rama.
Di sisi lain, Rama memang sangat
bahagia karena Shinta telah kembali ke pelukannya. Tapi dalam hati kecilnya
ternyata ada keraguan, dia ragu jikalau Shinta sudah tidak suci lagi. Karena
Rama tidak percaya jika selama di penculikan Shinta samasekali tidak dijamah
oleh Rahwana. Shinta berusaha meyakinkan Rama bahwa dirinya tidak pernah sudi
disentuh sedikitpun oleh Rahwana. Tapi semua ucapan Shinta tidak bisa membuat
Rama percaya sepenuhnya. Akhirnya, Shinta berani disumpah. Shinta menyuruh Rama
untuk membakar tubuhnya. Jika nanti Shinta terbakar, maka benar bahwa Shinta
sudah tidak suci lagi. Tapi jika tubuh Shinta tidak terbakar oleh api itu, maka
itu berarti Shinta benar-benar masih suci. Kemudian Rama pun menuruti apa yang
diinginkan Shinta. Dan setelah sumpah pembakaran itu dilakukan ternyata Shinta
samasekali tidak terbakar oleh api itu.
Dengan begitu, akhirya Rama pun
percaya bahwa Shintra benar-benar masih suci. Rama pun memohon maaf kepada Shinta
atas keraguannya. Dan pada akhirnya Shinta dan Rama hidup bahagia di Negeri
Ramayana.
Pembukaan
dengan penampilan tarian berpasangan diiringi musik gamelan oleh 2 penari
perempuan dan 2 penari laki-laki..
Alkisah
di Negeri Ramayana hiduplah sepasang kekasih, yaitu Putri Shinta dan Pangeran
Rama. Shinta adalah seorang putri yang sangat cantik, dan Rama adalah seorang
pangeran yang sangat tampan dan gagah. Suatu hari, terlihat mereka berdua
sedang asyik bercengkrama dan bersenda gurau disebuah taman.
Shinta : “Kanda, lamun dinda jadi bunga.
Kanda jadi naona?”
Rama : “Kanda mah bade jadi kumbangna
dinda.”
Shinta : ”Naha geuning kanda?”
Rama : “Jeehh... Kapan ambih tiasa
terus napel dina hate dinda..” (Sambil merayu)
Shinta : “Aaaahh... Kanda mah tiasa wae”
(Sambil tersenyum malu)
Rama : (tersenyum) “Dinda, bapa dinda
mah pawang harimau nya?”
Shinta : ”Ihh.. Ning kanda terang?”
Rama : “Jeehh.. Nya kapanan Cuma dinda
anu tiasa ngajinakeun hate kanda.”
Shinta : “Aahhh.. Ari kanda, beuki tiasaan wae
ngagombalna..”(Mendorong Rama, karena saking salah tingkahnya)
Disaat
Rama dan Shinta sedang asyik bersenda gurau sambil bermesraan di taman.
Tiba-tiba, lewatlah Raja Rahwana yaitu seorang raksasa yang jahat bersama para
prajuritnya.
Rahwana :
“Kekeke!! Keheula keheula!!”(Menyuruh para prajuritnya berhenti)
Pr. Wawan : ”Aya naon atuh ja?”
Rahwana : ”Deuleuk ituhh aya awewe mani geulis pisan !! (Sambil
menunjuk ke arah Shinta) Cik saha teuing itu awewe ngarana?
Pr. Nanang : “Waaaww... Itu mah Putri Shinta ja,
kabogohna Pangeran Rama.. Kunaon kitu ja? Bogoh?”
Rahwana : “Ohhh.. Mani hayang teuing eta si
Shintajadi milik urang..”
Pr. Tian : “Duuh.. Nya
hayulah geura cuang indit we ayeuna mah, da teu kaciri ieuh ku urang mah.”
Rahwana : “Nya heeh atuh ari ku maneh mah moal bet kaciri nanaon. Nya
hayu atuhlah, kita lanjutkan perjalanan!!”
Akhirnya
Rahwana dan para prajuritnya pun pergi untuk melanjutkan perjalanan.
Tidak lama
kemudian, datang dayang Aziza dan dayang Mila dengan tergesa-gesa.
Dy. Aziza : “Putri.. Putriiii.. Putri Shinta....”
(Sambil berteriak)
Dy. Mila : “Huuuss!! Ulah teuing
garawak-gorowok.. Kunaon sih??”
Dy. Aziza : “Nya woook.” (Sambil meledek)
Dy. Mila : “ Ihhh maneh mah ari dibejaan teh..”
(kesel)
Shinta : “Hey hey hey!! Aya naon atuh ieu
teh? Rariweuh pisan!!”
Dy. Aziza : “Putri nu aya naon?” (Dengan nada
memarahi Shinta )
Dy. Mila : “Jeehh!! Naha maneh kalah nyarekan
Putri?? Peaaa!
Dy. Aziza : “Eeehh.. Heeh nya? Punten putri
punten..
Shinta : “Nyanyanya... Aya naon kitu ieu
teh aya naon?”
Dy. Aziza :”Ih putri tuda kamana
wae? Ti tadi ku abi di bbm teu dibales. Tos di PING PING sababaraha kali, teu d
read keneh wae.”
Shinta : “Jihh.. Kapanan bbna ge teu
dicandak. Kumaha kitu?”
Dy. Mila : “Heeh nya.. Titadi
ge dibejaan, bb putri mah d istana keur di cas. Hayu atuh putri cuang uih, tos
sonten ih!!”(sambil menarik-narik tangan shinta)
Shinta : “Jih atuh keheula atuh ih..
Dy. Aziza : “Hayu putri enggal !!”
Shinta : “Nya keheula atuh ih.. Kanda,
dinda uih tipayun nya?”
Rama : “Oh.. Uhun dinda.Titi dije
sayang..”
Shinta : “Uhun kanda.. Dadaaaah kanda...”
Rama : “Dadah dinda..”
Dy. Aziza : “Hayu putri enggal ih hayu!!” (sambil
menarik-narik shinta)
Kemudian
Shinta pun dibawa pulang ke istana oleh para dayangnya. Tidak lama kemudian
Ramapun juga pergi meninggalkan taman.
Sementara
itu, di kerajaannya Rahwana sedang duduk bersantai sambil ditemani para dayang
dan prajuritnya.
Rahwana : (Sedang duduk santai di
singgasananya sambil memandangi photo shinta di bbnya)
Pr. Tian : “Memang ja, Si shinta
teh memang herang moronyoy euy..”
Pr. Nanang : “Yeueueuhh.. Rajana ge beulah dieu
ceng..”(sambil memukul punggung Pr.Tian)
Pr. Tian :
“Oh.. heeh ta”(tersenyum menertawakan dirinya sendiri)
Pr. Wawan : “Eueueuhh.. Ari dirimu
na apal herang moronyoy timana geura? Kapan cenah ngebleng alam dunya teh..
hahaha (tertawa)
Pr. Feri : “Jih ari maneh
(sambil memukul Pr.Wawan) Ceuk saha si shinta monyong? Kapan mani sakitu
geulisna ari si Shinta teh. Saraf maneh mah..”
Pr. Wawan : “Euuhhh.. Ngiruh tah ngiruh.. maneh nu
saraf mh”
Pr. Fery :
“Jiihh, bet kasep urang mah..”
Rahwana : “Nggeus nggeus!! STOP!! Lieur yeuh..
Pr. Nanang : “Heeh geura ih, garandeng pisan.
Leuheung mun bener bari ngomongna teh..
Rahwana : “Nggeus atuh
nggeus!! Mending ayeuna mah Pr. Nanang
jeung Pr. Wawan geura indit jung ngamata-mataan Shinta..”
Pr. Wawan : “Siap Ja...”
Pr.Tian : “Jih ning kuring teu diajak ja?”
Rahwana : “Lah sok ngadon ngaririweuh wungkul
ieuh maneh mah”
Pr.Nanang : “Hayu atuhlah cuang ngamata-mataan
sinta wan”
Pr.Wawan : “Nya hayu”
Kemudian
Pr.wawan dan Pr.nanang pun pergi untuk memata-matai Shinta sesuai perintah
rajanya, Rahwana.
Dikraton
atau dikerajaan Rahwana
P. Nanang : Raja . . . . . . Raja . . . . (ngirung
bari lulumpatan)
Rahwana : Aya naon atuh? Mani bet kudu make
lulumpatan sagala!
P. Nanang : Aya berita penting masalah Sinta Ja!
Rahwan : Berita naon? Geura sok caritakeunn!
P. Nanang : Keheula atuh, , , duh cape!
Rahwana : Jeh gewat!
P. Wawan : Jadi kieu Ja. Putri Sinta teh dilamar
ku Rama.
Rahwana : Ciyus? Miapah? (sedih) Ayeuna
panggil Nini Pelet kadieu!
P. Wawan : Uhun Ja. Siap!!
P. Wawan neang Nini Pelet, teu lila
Nini Pelet datang jeung P. Wawan.
Nini Pelet : Aya naon Ja manggil Nini?
Rahwana : Sinta ni Sinta!
Nini Pelet : Kumaha si Sinta teh kumaha?
Rahwana : Si Sinta geus dilamar ku si Rama Ni!
Nini Pelet : Geus ayeuna mah mening culik wae si
Sinta!
Istri Rahwana : Naon Sinta? Eta geus nyebut ngaran Sinta
deui!
Rahwana : Naon atuh? Tong sok ikut campur !
Wiranda : Romo entos romo,enging pasea wae karunya ka
biung..
Rahwana : (nyabok) cicinglah budak leutik mah
tong sok pipilueun.
Istri Rahwana : Kakang enggeus kakang , naha kalah nyabok
Wiranda.Wiranda mah henteu boga salah.
Rahwana : Lah cicing indit maneh !!
Istri Rahwana jeung Wiranda indit
bari sedih.
Rahwana : Geus ni ayeuna mah balik deui kanu
tadi,tah kumaha cara nyulik si Shinta teh ??
Nini Pelet : Duh nini bingung ,ke ke ke cuang
teangan heula carana ( bari muka google na HP )
Rahwana : Naha jadi muka HP ni ?
Nini Pelet : Jeh kapan keur ngahubungi aki google.
Prajurit Wawan :
Ari sinini moal oge kapanggih atuh.Geus ue atuh langsung culik we.
Nini Pelet : Atuh kapan kudu aya rencana heula
prajurit.
Prajurit Wawan: Eh
heueuh nya,kumaha atuh cara na ?
Prajurit Nanang:
Urang boga ide !
Prajurit Wawan :
Naon ide maneh geura ?
Prajurit Nanang :
Yeuh kapan unggal burit oge siShinta teh sok ulin ditaman,tah pas keur sorangan
cuang culik.
Prajurit Wawan :
Na ngomong naon maneh ? Tah ngobrol jeung lengeun urang.
Rahwana : Heueuh tah kitu wae prajurit,teu
salah urang milih maneh jadi prajurit . Sok ayeuna mah geura indit !
Prajurit Wawan,Prajurit
Nanang,Prajurit Tian indit.
Prajurit Fery : Naha
ek kamarana ?
Rahwana : Jung we geura indit tuturkeun
prajurit sejen.
Prajurit Fery : Siap !! ( bari indit )
Shinta keur diuk sorangan bari
ngorek BB.
Prajurit Nanang:
Tuh sinta tuh, geuwat geura culik.
Prajurit Wawan:
Heueuh hayu hayu..geuwat geura tewak.
Prajurit Nanang jeung Prajurit
Wawan buru-buru ngabekem siShinta,ari prajurit Fery jeung Prajurit Tian kalah
patangkeup-tangkeup da salah newak.
Dayang Aziza : Jih na eta jalma keur naon
patangkeup-tangkeup kitu ?
Dayang Mila : Jih pan eta teh prajurit na Rahwana !
heh maraneh !!
P.Fery+ Tian : Eeuleuh hayu indit-indit.(indit bari
patarik-tarik.
Dayang Mila : Shinta mana Shinta ?
Dayang Aziza : Euleuh Shinta euweuh boa diculik ku
prajurit Rahwana.
Dayang Mila : Alah heueuh Shinta euweuh hayu urang
lapor ka Pangeran Rama.
Dayang Mila jeung Dayang Aziza
indit.
Tutup Tirai.
(di karajaan Rama)
Aya 3 prajurit Rama di gerbang
(Prajurit Diki,Asep,Yana) terus datang dayang Aziza + Mila
Prajurit Diki : Heh sha aranjeun ?
Dayang Aziza : Abi dayang Aziza ieu dayang Mila,abi 2an
datang ti karajaan putri Shinta.
Prajurit Diki : Aya urusan naon datang kadieu
dayang-dayang anu gareulis ?
Dayang Mila : Aya urusan penting bade pependak sareng
pangeran Rama.
Prajurit Asep : Penting aja atau penting banget ? ( bari
nyolek dayang Mila )
Dayang Mila : Ih culak colek deui.
Prajurit Asep : Saalit atuh geulis..
Prajurit Yana : Geus geus geus hayu cuang anterkeun
dayang-dayang nu geulis ieu ka Pangeran Rama.
Prajurit
Diki+Asep: Nya hayu (bari nuyun 2dayang)
Indit ngahadep pangeran Rama.
Prajurit Yana : Hormat kami pangeran .
Rama : Nya,aya naon prajurit ?
Prajurit Yana : Aya nu bade pependak sareng pangeran saur
na aya urusan penting.
Rama : Jih geuning dayang Aziza jeung
dayang Mila aya naon dayang-dayang kadieu ?
Dayang Aziza :
Shinta pangeran,Shinta.
Rama : Kunaon Shinta ? aya naon ieu
teh ?
Dayang Aziza : Shinta diculik ku Rahwana Pangeran..
Rama : Hah ?? Naon ? Shinta di culik
ku Rahwana ? ( bari nantung) Rahwana biadab (bari ngetukeun tongkatna)
Dayang Mila : Uhun pangeran,kumaha atuh ayeuna ?
Rama : ayeuna kudu ngatur siasat jeung
ngabebaskeun Shinta ti Rahwana !! Prajurit prajirit...
Prajurit : Siap pangeran..
Tutup Tirai
Dikerajaan Rahwana
Rahwana : Shinta geulis (bari nyolek gadona)
Sinta : cicing siah tong nyabak
urang..!!!
Rahwana : Euleuh meni galak pisan atuh geulis.
Shinta : Naon iyeu maksudna maneh nyulik
urang ??
Rahwana : Wishwishwish ..tenang atuh tenang
nyariosna geulis,,bilih ku kakang di kawin siah..hahaha
Shinta : Cuihh..Sarakah..embng urang mah,
urang mah geus jadi milik pangeran Rama
Rahwana : Hahaha Rama ? Si Rama mah lewaaat..yeuh
mening kawin jeung kakang wae geulis !!(di colek gadona)
Shinta : Embung urang mah teu sudi
Tiba tiba BB Rahwana berbunyi,
ternyata itu BBM dari Rama
Rahwana : Keheula-keheula aya BBM, hah ?? Rama ?
Aya naon yeuh jalma ng BBM? (di baca)
Eusina (heh
Rahwana leupaskeun putri Shinta, mun henteu maneh berhadapan jeung urang) sanggeus
di baca seuseurian hahahaha....heh prajurit prajurit kerem putri Shinta di
penjara bawah tanah..!!
Prajurit
Wawan+Prajurit Nanang :Siap Raja (dibawa
indit)
Rahwana : Si Rama wawanianan ngBBM urang, ngajak
perang iyeu mah..
Prajurit Tian :
heueuh ja,ngajak perang kitu mah
Prajurit Fery : Saha nu mawa parang, ngajak perang meureun
maksud si raja mah..Nya jaa ??
Rahwana : Kapan heueuh, geus lah ayeuna mah
kerahkeun kabeh pasukan cuang serang kerajaan Rama...!!
Prajurit : Satuju...Hidup Raja Rahwana...Hidup
Raja Rahwana
Rahwana : Hahahaha.....
Tutup Tirai.
Dikerajaan Rama
Rama : Tah si Rahwana aya ngabales.
Prajurit Diki :
Kumaha cenah Pangeran ??
Rama : Wah iyeu mah ngajakan perang .
Prajurit Asep :
Hayu atuhlah cuang serang bae kerajaan Rahwana..!!
Prajurit Diki : Wishwishwishwish....keheula-keheula, kudu
make siasat meureun nyerang na ? Nya pangeran ?
Rama : Nya bener, kudu make siasat tah,
tapi kumaha ??
Prajurit Yana :
Kieu we pangeran (acan oge rapih Rahwana jeung prajuritna geus daratang)
Rahwana : Rama...Rama..kaluar siah..!!
(gogorowokan) ka dieu wanimah..!
Rama : Hah si Rahwana,hayu prajurit
siapkeun sanjata...!! (ka luar) heh Rahwana mana putri sinta urang ?
Rahwana : Hahaha..putri Shinta mah baik-baik
sayang !! hahaha
Rama : Kurang ajar lepaskeun putri
Shinta..!!
Rahwana : Teu bisa kitu wae, yeuh lengkahan heula
nyawa urang bisa mah..!
Rama : Sok naha...!!! Prajurit
seraaang...!!
Langsung Rama jeung Rahwana
perang,prajuritna deui perang. Rama ngalawan Rahwana,Prajurit Asep ngalawan
Prajurit Nanang, Prajurit Yana ngalawan Prajurit Fery, Prajurit Diki ngalawan
Prajurit Wawan, sedengkeung Prajurit Tian gelut sorangan ku sabab buta.Akhirna
dina peperangan eta Rahwana eleh ku Rama.
Rama : Eleh siah Rahwana..
Prajurit Rama : Hahahah...Hidup pangeran Rama...Hidup
Pangeran Rama...
Rama : Hayu gewat cuang bebaskeun putri
Shinta...!!
Rama+Prajurit indit erus ngabebaskeun
putri Shinta
Shinta : Kandaaa..
Rama : Dindaa..(berpegangan tangan)
Shinta : Akhirna Kanda sumping nyalametkeun
Dinda, Dinda meni bungah.
Rama : Uhun kanda oge sami dinda (sambil
ngeluk).
Shinta : Tapi ning naha eta raray kanda siga
nu galau kitu ??
Rama : Saleresna mah kanda teh ragu
Shinta : Ragu kunaon atuh kanda ?
Rama : Ragu dinda, naha dinda teh suci
keneh atawa henteu
Shinta : Astagpirullah kanda..Dinda mah suci
keneh, dinda mah teu di kukumaha ku Rahwana teh. Sok teu percan mah dinda wani
di duruk,lamun dinda teu ka duruk, berarti dinda masih suci, tapi lamun dind ka
duruk, dinda teh tos teu suci deui
Rama : hmmm... Kanda mah butuh bukti.
Shinta : Sok kanda, ku dinda bade di buktikeun
Rama : Oke lah kalau begitu.
Tanpa mengulur waktu,Rama pun segera
melakukan sumpah yang di minta Shinta
Rama : Dinda, naha dinda teh tos yakin
ngalaksanakeun sumpah iyeu ??
Shinta : Yakin kanda,ku sabab dinda aya dina
pihak nu bener.
Rama : Nya sok atuh buktikeun....!! Prajurit
duruk !!
Prajurit :Siap pangeran
Para prajurit ngaduruk Shinta, di
iringi para dayang jeung prajurit yang menari..Setelah pembakaran di lakukan
ternyata Shinta sama sekali tidak terbakar oleh api tersebut .melihat hal itu
rama pun terkejut dan segera memerintahkan prajuritnya untuk mematikan api
tersebut
Rama :Subhanallah sinta kenyataanya benar. Dinda
teh sama sekali teu kaduruk ku eta seuneu
Prajurit!!!buru geura pareuman
eta seuneu!!
P.Y.D.A
:Siap pangeran!!!
Setelah itu para prajurit segera
mematikan api di sekeliling tubuh sinta.dan ramapun segera menyelamatkan sinta.
Rama : Dinda....hampura kanda tos teu percanten
ka dinda..
Sinta : Uhun kanda, dinda oge ngartos, kanda
kitu soteh pedah kanda nyaah ka dinda,kitu sanes??
Rama : Uhun dinda.kanda bogoh ka dinda, kanda
nyaah ka dinda,hayu ayeuna mah cuang uih
Uih deui ka istana
Sinta : Uhun kanda.
No comments:
Post a Comment